Monday, November 10, 2014

Skizofrenia Hebefrenik pada Remaja

Latar Belakang
     Skizofrenia adalah gangguan mental yang termasuk dalam psikosis. Penderita skizofrenia tidak dapat mengenali antara realitas yang sesungguhnya dengan apa yang hanya ada di pikirannya. Skizofrenia memiliki ciri-ciri, yaitu, delusi, halusinasi, disorganized speech (pembicaraan kacau), disorganized behavior (tingkah laku kacau) atau katatonik, dan simtom-simtom negatif. Delusi adalah suatu keyakinan yang salah, delusi memiliki berbagai macam jenis. Delusi yang paling banyak terjadi adalah delusion of grandeur (delusi kemegahan) dan delusion of persecution (delusi dikejar-kejar).
Menurut penelitian, tanda-tanda skizofrenia akan muncul pada awal sampai pertengahan umur 20an pada laki-laki, dan akhir umur 20an pada perempuan (DSM-5, 2013). Skizofrenia memiliki berbagai jenis, yaitu, skizofrenia tidak teratur (hebefrenik), skizofrenia katatonik, skizofenia paranoid, skizofrenia residual, dan skizofrenia yang tidak terperinci. Pada tulisan ini akan dibahas tentang skizofrenia tidak teratur atau hebefrenik yang umumnya terdapat di kalangan remaja dibandingkan dengan tipe skizofrenia lainnya.
Skizofrenia Tidak Teratur (Hebefrenik)
Ciri dari gangguan ini adalah tingkah laku bodoh, ketidakpaduan antara pikiran, bicara, dan tindakan, sifat yang kekanak-kanakan (Semiun, 2006). Kraepelin menamakan skizofrenia tipe ini dengan sebutan dementia praecox, karena penderita skizofrenia tipe ini umumnya adalah remaja, berbeda dengan skizofrenia tipe lainnya. Disintegrasi yang disebabkan oleh skizofrenia hebefrenik lebih parah atau berat jika dibandingkan dengan skizofrenia tipe katatonik dan paranoid.
Orang yang menderita gangguan ini akan menarik diri secara ekstrem. (Semium, 2006). Penarikan diri dilakukan karena penderita penyakit ini akan lebih tertarik untuk hidup dalam dunianya sendiri. Penderita akan mengalami halusinasi dan delusi. Delusi yang biasanya terjadi adalah delusi kemegahan dan delusi dikejar-kejar.
Delusi dikejar-kejar pada penderita skizofrenia hebefrenik tidak akan sekuat yang dialami oleh penderita skizofrenia paranoid. Kesimpulan yang dapat diambil dari penjelasan tentang skizofrenia hebefrenik diatas, yaitu, penderita adalah orang yang mengalami stress kehidupan sehingga mundur ke tahap penyesuaian diri anak-anak. Dalam beberapa kasus ekstrem, penderita dapat mengalami kemunduran yang menyebabkannya bertingkah laku seperti bayi.
Skizofreniform dan Skizofrenia
Seseorang dapat didiagnosis menderita skizofrenia jika dalam waktu lebih dari 6 bulan kondisinya memenuhi kriteria dari salah satu jenis skizofrenia. Dalam jangka waktu 4 minggu sampai 6 bulan, penderita memiliki kemungkinan hanya menderita skizofreniform. Skizofreniaform dan skizofrenia adalah gangguan mental yang sejenis atau sama. Perbedaan antara skizofrenia dan skizofreniform adalah bahwa skizofreniform akan sembuh dalam jangka waktu 4 minggu sampai 6 bulan. Jika penderita skizofreniform telah menjalani gangguan selama lebih dari 6 bulan, maka penderita tersebut harus didiagnosis ulang sebagai penderita skizofrenia.

Penyebab Skizofrenia
Skizofrenia dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Sebagian besar ilmuwan meyakini bahwa skizofrenia adalah penyakit biologis yang disebabkan oleh faktor-faktor genetik, ketidakseimbangan kimiawi di otak, abnormalitas struktur otak, dan abnormalitas dalam lingkungan prenatal (Arif, 2006). Faktor genetik yaitu keturunan, ketidakseimbangan kimiawi di otak terjadi karena reseptor dopamine terhambat, struktur otak yang tidak normal, seperti pembesaran ventrikel, ditemukan pada penderita skizofrenia.
Remaja menderita skizofrenia hebefrenik, yaitu kemunduran dalam perkembangan mental, dapat disebabkan oleh faktor hubungan anak remaja tersebut dengan lingkungannya dan orang tuanya terganggu, tidak baik, atau menyebabkan stress yang berlebihan dan tidak dapat ditoleransi oleh mental remaja tersebut. Maka remaja tersebut menarik diri dari kenyataan dan lingkungannya. Remaja penderita skizofrenia hebefrenik hidup di dalam dunianya sendiri.

Cara Menangani Skizofrenia
Tidak ada cara pasti untuk mencegah skizofrenia. Milieu therapy dinilai tidak efektif untuk penanganan skizofrenia. Psikoterapi juga dinilai tidak efektif untuk menghilangkan simtom-simtom skizofrenia, tetapi berguna untuk memberi dukungan dan bimbingan kepada perderita skizofrenia.
Pendekatan belajar yang memberi hadiah-hadiah dan hukuman-hukuman dapat digunakan untuk mengubah tingkah laku penderita skizofrenia. Pendekatan fisiologis dengan obat-obat neuroleptik dinilai efektif untuk penanganan skizofrenia. Obat-obat neuroleptik mengurangi simtom-simtom, menggiatkan, dan memotivasi penderita skizofrenia. Obat-obat neuroleptik hanya berguna untuk merawat penderita skizofrenia saja, tidak untuk menyembuhkannya. Penanganan skizofrenia yang tepat bagi setiap orang dapat berbeda-beda, maka harus dilakukan konseling atau konsultasi kepada orang yang profesional pada bidang ini seperti psikolog dan psikiater, agar dapat diketahui penanganan terapi atau dengan teori pendekatan apa yang paling cocok untuk merawat penderita skizofrenia tersebut.

Dampak Skizofrenia
Dampak Primer Skizofrenia adalah dampak yang dirasakan oleh penderita sendiri. Penderita akan menjadi anti sosial, merasa dikucilkan dan ditinggalkan. Penderita akan merasakan ketakutan, curiga, serta dapat membahayakan dirinya dan orang-orang disekitarnya. Penderita skizofrenia hebefrenik tidak dapat berpikir, berkomunikasi dan bertingkah laku dengan normal.
Dampak Sekunder Skizofrenia adalah dampak yang dirasakan oleh orang lain di sekitar penderita skizofrenia tersebut. Orang disekitar penderita skizofrenia dapat menjadi terancam dengan keberadaan, kenekatan, dan perbuatan penderita skizofrenia yang secara tiba-tiba. Hasilnya lama kelamaan orang disekitar penderita akan terganggu dan memiliki kemungkinan besar tidak merasa aman dan nyaman jika penderita skizofrenia tersebut belum dirawat di rumah sakit. Orang -orang disekitar penderita skizofrenia hebefrenik dapat juga merasakan terbebani dengan adanya penderita disebabkan oleh mental penderita yang seperti anak-anak.

Kesimpulan
Dari penjelasan diatas tentang skizofrenia hebefrenik pada anak remaja, dapat disimpulkan bahwa skizofrenia seharusnya tidak terjadi pada masa remaja. Skizofrenia dalam kasus-kasus tertentu terjadi pada remaja dan hal ini tidaklah wajar, maka harus dilakukan penelitian lebih lanjut, dan orang tua pun harus teliti dalam setiap perkembangan, tingkah laku dari anak remaja. Kemungkinan penderita skizofrenia tidak dapat dideteksi oleh orang-orang sekitarnya karena kurangnya pengetahuan akan skizofrenia dan juga dapat disebabkan oleh pemikiran yang menganggap hal-hal yang terjadi adalah dalam batas wajar. Maka skizofrenia yang terjadi pada remaja harus dikenali dan ditangani dengan tepat sebelum kondisi skizofrenia yang dialami penderita menjadi semakin parah atau berat dan sebelum remaja tersebut menjadi dewasa, lalu tidak dapat melanjutkan hidup dengan normal.











Daftar Pustaka

Arif, I. S. (2006). Skizofrenia: Memahami dinamika keluarga pasien. R. Herlina (Ed.). Bandung: Refika Aditama.
American Psychiatric Association (APA). (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed.). Washington, DC: Author.
Elia, H., Fernandes, C., Hadisoepadmo, A., Irwanto, Priyani, R.,  Wismanto, Y. B. (2002). Psikologi umum: Buku panduan mahasiswa. Jakarta: Prenhallindo.
Kartono, K. (2002). Patologi sosial: Gangguan-gangguan kejiwaan (3rd ed.). Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Semiun, Y. (2006). Kesehatan mental 3. Yogyakarta: Kanisius.


No comments:

Post a Comment