Skizofrenia Hebefrenik pada Remaja
Latar Belakang
Skizofrenia adalah gangguan mental yang
termasuk dalam psikosis. Penderita skizofrenia tidak dapat mengenali antara
realitas yang sesungguhnya dengan apa yang hanya ada di pikirannya. Skizofrenia
memiliki ciri-ciri, yaitu, delusi, halusinasi, disorganized speech (pembicaraan kacau), disorganized behavior (tingkah laku kacau) atau katatonik, dan simtom-simtom
negatif. Delusi adalah suatu keyakinan yang salah, delusi memiliki berbagai
macam jenis. Delusi yang paling banyak terjadi adalah delusion of grandeur (delusi kemegahan) dan delusion of persecution (delusi
dikejar-kejar).
Menurut
penelitian, tanda-tanda skizofrenia akan muncul pada awal sampai pertengahan
umur 20an pada laki-laki, dan akhir umur 20an pada perempuan (DSM-5, 2013). Skizofrenia memiliki berbagai jenis,
yaitu, skizofrenia tidak teratur (hebefrenik), skizofrenia katatonik,
skizofenia paranoid, skizofrenia residual, dan skizofrenia yang tidak
terperinci. Pada tulisan ini akan dibahas tentang skizofrenia tidak teratur
atau hebefrenik yang umumnya terdapat di kalangan remaja dibandingkan dengan
tipe skizofrenia lainnya.
Skizofrenia Tidak
Teratur (Hebefrenik)
Ciri
dari gangguan ini adalah tingkah laku bodoh, ketidakpaduan antara pikiran,
bicara, dan tindakan, sifat yang kekanak-kanakan (Semiun, 2006). Kraepelin
menamakan skizofrenia tipe ini dengan sebutan dementia praecox, karena penderita skizofrenia tipe ini umumnya
adalah remaja, berbeda dengan skizofrenia tipe lainnya. Disintegrasi yang
disebabkan oleh skizofrenia hebefrenik lebih parah atau berat jika dibandingkan
dengan skizofrenia tipe katatonik dan paranoid.
Orang
yang menderita gangguan ini akan menarik diri secara ekstrem. (Semium, 2006).
Penarikan diri dilakukan karena penderita penyakit ini akan lebih tertarik
untuk hidup dalam dunianya sendiri. Penderita akan mengalami halusinasi dan
delusi. Delusi yang biasanya terjadi adalah delusi kemegahan dan delusi
dikejar-kejar.
Delusi
dikejar-kejar pada penderita skizofrenia hebefrenik tidak akan sekuat yang
dialami oleh penderita skizofrenia paranoid. Kesimpulan yang dapat diambil dari
penjelasan tentang skizofrenia hebefrenik diatas, yaitu, penderita adalah orang
yang mengalami stress kehidupan sehingga mundur ke tahap penyesuaian diri
anak-anak. Dalam beberapa kasus ekstrem, penderita dapat mengalami kemunduran
yang menyebabkannya bertingkah laku seperti bayi.
Skizofreniform dan
Skizofrenia
Seseorang
dapat didiagnosis menderita skizofrenia jika dalam waktu lebih dari 6 bulan
kondisinya memenuhi kriteria dari salah satu jenis skizofrenia. Dalam jangka
waktu 4 minggu sampai 6 bulan, penderita memiliki kemungkinan hanya menderita
skizofreniform. Skizofreniaform dan skizofrenia adalah gangguan mental yang
sejenis atau sama. Perbedaan antara skizofrenia dan skizofreniform adalah bahwa
skizofreniform akan sembuh dalam jangka waktu 4 minggu sampai 6 bulan. Jika
penderita skizofreniform telah menjalani gangguan selama lebih dari 6 bulan,
maka penderita tersebut harus didiagnosis ulang sebagai penderita skizofrenia.
Penyebab Skizofrenia
Skizofrenia
dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Sebagian besar ilmuwan meyakini bahwa
skizofrenia adalah penyakit biologis yang disebabkan oleh faktor-faktor
genetik, ketidakseimbangan kimiawi di otak, abnormalitas struktur otak, dan
abnormalitas dalam lingkungan prenatal (Arif, 2006). Faktor genetik yaitu
keturunan, ketidakseimbangan kimiawi di otak terjadi karena reseptor dopamine
terhambat, struktur otak yang tidak normal, seperti pembesaran ventrikel,
ditemukan pada penderita skizofrenia.
Remaja
menderita skizofrenia hebefrenik, yaitu kemunduran dalam perkembangan mental,
dapat disebabkan oleh faktor hubungan anak remaja tersebut dengan lingkungannya
dan orang tuanya terganggu, tidak baik, atau menyebabkan stress yang berlebihan
dan tidak dapat ditoleransi oleh mental remaja tersebut. Maka remaja tersebut
menarik diri dari kenyataan dan lingkungannya. Remaja penderita skizofrenia
hebefrenik hidup di dalam dunianya sendiri.
Cara Menangani Skizofrenia
Tidak
ada cara pasti untuk mencegah skizofrenia. Milieu
therapy dinilai tidak efektif untuk penanganan skizofrenia. Psikoterapi
juga dinilai tidak efektif untuk menghilangkan simtom-simtom skizofrenia,
tetapi berguna untuk memberi dukungan dan bimbingan kepada perderita
skizofrenia.
Pendekatan
belajar yang memberi hadiah-hadiah dan hukuman-hukuman dapat digunakan untuk
mengubah tingkah laku penderita skizofrenia. Pendekatan fisiologis dengan
obat-obat neuroleptik dinilai efektif untuk penanganan skizofrenia. Obat-obat
neuroleptik mengurangi simtom-simtom, menggiatkan, dan memotivasi penderita
skizofrenia. Obat-obat neuroleptik hanya berguna untuk merawat penderita
skizofrenia saja, tidak untuk menyembuhkannya. Penanganan skizofrenia yang
tepat bagi setiap orang dapat berbeda-beda, maka harus dilakukan konseling atau
konsultasi kepada orang yang profesional pada bidang ini seperti psikolog dan
psikiater, agar dapat diketahui penanganan terapi atau dengan teori pendekatan
apa yang paling cocok untuk merawat penderita skizofrenia tersebut.
Dampak Skizofrenia
Dampak Primer Skizofrenia
adalah dampak yang dirasakan oleh penderita sendiri. Penderita akan menjadi
anti sosial, merasa dikucilkan dan ditinggalkan. Penderita akan merasakan
ketakutan, curiga, serta dapat membahayakan dirinya dan orang-orang
disekitarnya. Penderita skizofrenia hebefrenik tidak dapat berpikir,
berkomunikasi dan bertingkah laku dengan normal.
Dampak Sekunder
Skizofrenia adalah
dampak yang dirasakan oleh orang lain di sekitar penderita skizofrenia
tersebut. Orang disekitar penderita skizofrenia dapat menjadi terancam dengan
keberadaan, kenekatan, dan perbuatan penderita skizofrenia yang secara
tiba-tiba. Hasilnya lama kelamaan orang disekitar penderita akan terganggu dan
memiliki kemungkinan besar tidak merasa aman dan nyaman jika penderita
skizofrenia tersebut belum dirawat di rumah sakit. Orang -orang disekitar
penderita skizofrenia hebefrenik dapat juga merasakan terbebani dengan adanya
penderita disebabkan oleh mental penderita yang seperti anak-anak.
Kesimpulan
Dari
penjelasan diatas tentang skizofrenia hebefrenik pada anak remaja, dapat
disimpulkan bahwa skizofrenia seharusnya tidak terjadi pada masa remaja.
Skizofrenia dalam kasus-kasus tertentu terjadi pada remaja dan hal ini tidaklah
wajar, maka harus dilakukan penelitian lebih lanjut, dan orang tua pun harus
teliti dalam setiap perkembangan, tingkah laku dari anak remaja. Kemungkinan
penderita skizofrenia tidak dapat dideteksi oleh orang-orang sekitarnya karena
kurangnya pengetahuan akan skizofrenia dan juga dapat disebabkan oleh pemikiran
yang menganggap hal-hal yang terjadi adalah dalam batas wajar. Maka skizofrenia
yang terjadi pada remaja harus dikenali dan ditangani dengan tepat sebelum
kondisi skizofrenia yang dialami penderita menjadi semakin parah atau berat dan
sebelum remaja tersebut menjadi dewasa, lalu tidak dapat melanjutkan hidup
dengan normal.
Daftar Pustaka
Arif, I. S.
(2006). Skizofrenia: Memahami dinamika
keluarga pasien. R. Herlina (Ed.). Bandung: Refika Aditama.
American
Psychiatric Association (APA). (2013). Diagnostic
and statistical manual of mental disorders
(5th ed.). Washington, DC: Author.
Elia, H.,
Fernandes, C., Hadisoepadmo, A., Irwanto, Priyani, R., Wismanto, Y. B. (2002). Psikologi umum: Buku panduan mahasiswa. Jakarta: Prenhallindo.
Kartono, K.
(2002). Patologi sosial:
Gangguan-gangguan kejiwaan (3rd ed.). Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Semiun,
Y. (2006). Kesehatan mental 3. Yogyakarta:
Kanisius.